Soeratin Babel 2026 Mandek, Dua Bulan Latihan Berujung Hampa— PSSI Babel Ditagih Tanggung Jawab
PORTALNASIONAL, BANGKA BELITUNG — Sepak bola Bangka Belitung kembali dipertanyakan. Kompetisi Soeratin 2026 yang seharusnya menjadi panggung bagi pemain muda justru dikabarkan tidak berjalan. Ironisnya, para pemain telah menjalani proses seleksi dan latihan sekitar dua bulan, tetapi hingga kini belum mendapatkan kepastian pertandingan,Sabtu(12/9/2026)
Dua bulan berlatih, lalu apa hasilnya?
Pertanyaan tersebut kini menjadi kegelisahan pemain, pelatih, orang tua dan pecinta sepak bola Babel.
Soeratin bukan sekadar turnamen. Bagi pemain muda, kompetisi ini merupakan kesempatan untuk menguji kemampuan, mendapatkan pengalaman dan membuka jalan menuju level yang lebih tinggi.
Namun ketika kompetisi tidak berjalan, mimpi yang sudah dibangun melalui latihan berbulan-bulan seolah dipaksa berhenti di tengah jalan.
Publik pun layak bertanya kepada Asprov PSSI Bangka Belitung:
Ke mana arah pembinaan sepak bola Babel? Siapa yang bertanggung jawab ketika pemain sudah dipersiapkan tetapi kompetisinya tidak jelas?
Informasi yang berkembang menyebutkan Babel tidak tercantum dalam daftar peserta Soeratin tingkat nasional. Sementara itu, sejumlah pihak menyebut tahapan kompetisi di daerah lain telah berjalan.
Jika informasi tersebut benar, persoalannya bukan lagi sekadar soal pertandingan yang batal. Ini menyangkut kepastian pembinaan pemain muda dan kredibilitas tata kelola sepak bola daerah.
Ketika dikonfirmasi, Ketua PSSI Babel disebut menyampaikan bahwa regulasi dari PSSI pusat belum turun. Masa kepengurusan juga disebut telah berakhir pada Agustus 2026.
Tetapi alasan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru.
Apa yang sudah dilakukan PSSI Babel selama menunggu regulasi?
Apakah sudah ada koordinasi intensif dengan PSSI pusat? Apakah klub dan pemain sudah diberikan kepastian? Apakah ada solusi agar proses latihan tidak sia-sia?
Publik tidak membutuhkan sekadar alasan.
Publik membutuhkan kepastian dan tindakan.
Awak Media konfirmasi Coach Aby pangkal pinang FC mengatakan sebelumnya juga menyuarakan kekecewaan keras terhadap kondisi tersebut. Ia menilai kepentingan pemain muda tidak boleh dikorbankan akibat persoalan pengelolaan organisasi.
Bahkan muncul tuntutan agar pengurus mempertanggungjawabkan persoalan tersebut secara terbuka.
Kritik ini seharusnya menjadi alarm keras bagi sepak bola Babel.
PEMIMPIN BARU JANGAN CUMA GANTI NAMA, HARUS GANTI CARA KERJA
Kini perhatian publik juga tertuju kepada kepengurusan PSSI Babel berikutnya.
Jika benar akan terjadi pergantian kepemimpinan, masyarakat sepak bola Babel tentu berharap pengurus baru tidak hanya mengganti struktur organisasi, tetapi juga mengubah cara kerja.
Sepak bola Babel membutuhkan pemimpin yang aktif turun ke lapangan, membangun kompetisi secara rutin, memperkuat pembinaan usia muda dan berani memperjuangkan kepentingan klub kepada PSSI pusat.
Jangan sampai pemain muda hanya menjadi objek seleksi dan latihan, tetapi ketika waktunya bertanding justru tidak memiliki panggung.
Cukup sudah pemain muda menjadi korban ketidakjelasan kompetisi.
PSSI Babel harus mampu membuktikan bahwa sepak bola usia muda benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar program yang ramai ketika ada momentum tertentu.
JANGAN ULANGI KEGAGALAN YANG SAMA
Babel tidak kekurangan anak muda berbakat. Yang dipertanyakan adalah apakah sistem pembinaannya mampu memberikan mereka kompetisi yang berkelanjutan.
Karena pemain tidak bisa berkembang hanya dengan latihan.
Pemain membutuhkan pertandingan. Pemain membutuhkan kompetisi. Pemain membutuhkan kepastian.
Jika dua bulan latihan akhirnya tidak menghasilkan pertandingan, wajar apabila publik bertanya keras: siapa yang harus bertanggung jawab?
PSSI Babel dan PSSI pusat kini ditunggu penjelasan terbuka mengenai status Soeratin Babel 2026.
Dan untuk kepengurusan PSSI Babel ke depan, pesannya jelas:
Jangan lagi biarkan sepak bola Babel berjalan tanpa arah. Jangan biarkan pemain muda berlatih tanpa kepastian. Kalau ingin sepak bola Babel maju, pemimpinnya harus lebih giat bekerja, lebih terbuka kepada publik, dan benar-benar berpihak pada pembinaan pemain muda.
Karena masa depan sepak bola Babel bukan berada di ruang rapat—tetapi sedang berlari di lapangan dan menunggu kesempatan untuk bertanding.

